Nama John Lewis mungkin belum terlalu dikenal di Indonesia. Padahal John Lewis adalah salah satu jaringan pengecer dengan 38 gerai yang tersebar di seluruh Inggris dengan jumlah pegawai sekitar 81.000 orang.

Mengapa John Lewis menjadi sangat menarik bagi saya dan mungkin juga Anda?

Karena John Lewis dijadikan model ekonomi baru oleh Deputi PM Nick Clegg dari Inggris pada medio Januari 2012 lalu dengan proposal pemberdayaan ekonomi yang disebut “John Lewis Economy“.

Mengapa John Lewis dijadikan Clegg sebagai model perekonomian baru di Inggris?

Sederhana saja, John Lewis dianggap sebagai model terbaik dari employee-owned businesses alias bisnis/usaha yang dikelola secara langsung oleh para pegawainya.

Mengapa John Lewis dianggap sebagai model terbaik employee-owned businesses?

Ada banyak alasan. Setidaknya ada 5 rahasia kesuksesan John Lewis yang menjadikannya sebagai model terbaik employee-owned businesses.

Pertama, 100% (seratus persen) saham John Lewis saat ini dimiliki oleh para pegawainya melalui program perwakilan trust.

Kedua, John Lewis menerapkan sistem bonus/renumerasi yang transparan dan setara.

Ketiga, dengan adanya program perwakilan trust maka dibentuklah sistem forum karyawan yang dapat menyeimbangkan kekuasaan.

Keempat, seluruh karyawan John Lewis mempunyai rasa memiliki yang tinggi dan saling melindungi sesamanya.

Terakhir, terkait dengan keempat rahasia sebelumnya maka filosofi “kebahagiaan untuk seluruh karyawan” bukan hanya menjadi slogan tetapi benar-benar diwujudkan setiap saat di setiap situs bisnis John Lewis.

Walaupun menurut saya pribadi, model employee-owned businesses pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan model bisnis koperasi. Dimana setiap anggotanya berkedudukan setara dan memiliki akses penuh terhadap aktivitas bisnis badan usahanya.

Apapun, akhirnya yang menarik adalah model sistem bisnis yang dikembangkan oleh John Lewis setidaknya sudah menyadarkan saya bahwa sistem kapitalisme dan liberalisasi ekonomi pada akhirnya semakin terbukti tidak berhasil mensejahterakan masyarakat secara luas.

Sistem kapitalisme dan liberalisasi terbukti membangun sebuah sistem yang hanya memperkaya segelintir orang/kelompok dengan menkorupsi kesejahteraan mayoritas anggota masyarakat lainnya.

Korupsi yang masih terbayang di benak kita seperti Enron, WorldCom, Kerajaan Bisnis Media Rupert Murdoch, dsb.

Korupsi segelintir orang/kelompok yang menikmati 3/4 bagian kue dan menyerahkan sisanya untuk diperebutkan oleh yang lain.

Sehingga sangatlah wajar jika kondisi tersebut akhirnya memunculkan rasa ketidakadilan dari sebagian besar masyarakat yang pada berujung kepada pemikiran dan aksi merendahkan produktivitas serta tuntutan kesejahteraan yang lebih besar.

Lepas dari tudingan bahwa kaum buruh sudah dipolitisasi dan digerakkan oleh ormas/orsospol, kenyataan di lapangan menggambarkan bagaimana para kelompok pengusaha dan kelompok pekerja mengalami ketidakharmonisan karena masing-masing saling mengklaim jatah porsi kuenya.

Kondisi yang sering membuat saya miris karena akhirnya setiap orang menjadi semakin kehilangan kesempatan untuk bersama-sama membangun kesejahteraannya.

Pebisnis dan pekerja adalah elemen yang saling melengkapi dan menguatkan. Kelemahan di satu sisi akan memiliki dampak yang sangat berpengaruh di sisi lainnya.

Jika saja upaya pembangunan kesejahteraan dapat dilakukan bersama-sama, dampaknya pasti dirasakan bersama pula.

Nggak percaya?

John Lewis sudah membuktikannya.

Di saat ekonomi Eropa sedang mengalami kelesuan dan resesi, John Lewis mengalami pertumbuhan 50% lebih tinggi dibandingkan ekonomi nasional Inggris dan melakukan ekspansi besar-besaran di luar bisnis retailnya (properti, hotel, travel, dsb) sebagai upaya meningkatkan bagi-hasil keuntungan bisnisnya untuk 81.000 orang.

Diarsipkan di http://www.setiabudi.name/archives/1263