Ketekunan dan kompetensi membuahkan integritas, mungkin itu yang
bisa kita ambil pelajaran pada guru kita yang satu ini, chef Kamal. Beliau
beranjak dari tangga awal bisnis yang patut juga dijadikan contoh. Khususnya
bagi para “amphibi” yang sedang bersiap untuk take off. Bagi chef Kamal, usia muda ia gunakan untuk mencari
pengalaman sebanyak-banyaknya, walaupun Chef Kamal sendiri menilai bahwa waktu
belajarnya terlalu panjang.

Chef Kamal mengulas pengalaman
bisnisnya pada acara yang diadakan Bandung Entrepreneur Forum edisi Maret 2012,
Minggu (1/4) di TnC Café jalan Sawah Kurung IV No.14. TnC Café adalah café
milik Chef Kamal yang sekaligus dijadikan tempat diklat bagi para pecinta
Kuliner di Bandung. BEF kali ini merupakan sebuah acara yang sangat menarik
untuk kita simak. Bagi teman-teman yang tidak sempat hadir mungkin ini ada
beberapa catatan yang sempat saya tangkap dari pertemuan tersebut.

Chef Kamal memulai karirnya dalam
dunia tata boga dari karir terendah, barulah setelah tujuh tahun ia dipercaya
sebagai chef di sebuah hotel berbintang lima di Jakarta. Kesempatan selanjutnya
pria, pria berkumis ini pun dipercaya sebagai chef di Hotel Grand Hyatt Bandung. Kesungguhannya
dalam bekerja pun mendapatkan pujian, karya-karya tata boganya banyak
mendatangkan pundit-pundi uang bagi perusahaannya. Saat iut bisa dibilang, chef
Kamal dalam masa puncak karir.

Kesulitan ekonomi keluarga sering
kali “bermanfaat” setelah dijalani dengan penuh perjuangan dan kesabaran untuk
melakukan loncatan besar. Hal itu pulalah setidaknya yang pernah dirasakan oleh
chef Kamal saat terjadi tragedi 1998. Saat itu keran keuangan keluarga chef
Kamal tergoncang oleh kebijakan perusahaan yang memotong 25% gaji bulanannya.
Bagai petir di siang bolong, sang Chef kita ini kelabakan, walaupun jam
kerjanya dikurangi, tetap saja yang namanya dapur harus ngebul, itulah yang
dialami sang chef Kamal.”Jangankan dipotong gaji dua puluh lima persen, tanpa dipotong gaji pun keuangan
saya sudah pas-pas an. Saya tidak mungkin ngomong sama istri, karena suasana
bisa makin kacau,” kata chef Kamal mengenang peristiwa krisis Ekonomi saat itu.

Saat-saat genting inipun dilalui
dengan berat, sambil memikirkan solusi keuangan keluarga yang sudah tidak bisa
diajak kompromi lagi. Sikap sportivitas dalam diri chef Kamal membuka peluang
baru baginya untuk menambah penghasilan keluarga. Setelah minta izin sama
atasannya, chef Kamal pun mencari celah untuk berwirausaha. Saat itulah ia
mulai mengadu nasib dengan membuka warung tenda di kawasan Dago bersama sang
istri di depan sebuah toko makanan di kawasan Dago.

Karena kepiawaiannya dalam
mengolah kuliner khususnya Tiramisu, maka para konsumen pun berdatangan,
seperti pepatah mengatakan“Ada gula, ada semut”. Tanpa iklan pun warung Tiramisu milik chef Kamal pun makin
rame, mungkin karena rasanya yang enak. Lama kelamaan warung tenda chef Kamal
makin dikerumini pembeli. Lucunya warung yang tadinya hanya di depan salahsatu
toko kue di kawasan Dago ini pun mendapatkan tawaran untuk berjualan di dalam toko
dari sang pemilik toko.

Waktu belajar dan mengasah skill
yang hampir mencapai 16 tahun memang dirasa cukup lama bagi chef Kamal. Padahal
dengan waktu 3 sampai 4 tahun pun cukup untuk mempelajari seluk bisnis ini.
“Sebenarnya waktu belajar saya cukup lama, padahal dengan waktu tiga tahun saja
sudah cukup untuk memulai usaha sendiri. Tiga tahun saya sudah bisa
merencanakan menu dan membuat target penjualan dan kenal dengan para supplier,”
jelasnya.

Memang tidak semudah membalikkan
telapak tangan untuk meraih sukses menjadi seorang pengusaha. Chef Kamal pun
sadar betul ia tidak akan selamanya menjadi karyawan. Sambil bekerja, usahanya
pun sudah jalan, keuangan keluarga pun bisa diatasi, bahkan sudah lebih dari
cukup. Ia dan istri banting tulang untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Pulang
kerja, ia langsung mempersiapkan keperluan warung tendanya. Hasil usahanya
ditabung, dan gaji dari Hotel saja yang mereka makan.

Hingga suatu saat, setelah 5
tahun perjalanan usaha chef  Kamal
sanggup membeli rumah seharga 200 juta dengan uang tunai alias tanpa pinjaman
bank. Dalam bisnis, ia tidak percaya kalau konsumen tidak jadi beli produknya
karena tidak diutangkan. Ia lebih memilih terus men develop produk yang dimilikinya sehingga punya nilai tambah yang
tinggi daripada jual produk dengan harga murah apalagi diutangkan.

Dengan kompetensi dan keahlian
yang ia miliki, konsumen pun sangat menghargai hasil karya-karya chef Kamal.
Bahkan untuk urusan transaksi yang bernilai ratusan juta pun ia sangat
berhati-hati, tidak mudah memberikan hutang pada perusahaan besar
sekalipun.”Lebih baik menjual produk pada perusahaan kecil tapi pembayaran
lancar, daripada menjual pada perusahaan besar tapi kita harus memodali
mereka,” tandasnya mengigatkan para pemula yang mau berbisnis. Mungkin beliau
adalah salahseorang “Raja cash” yang pernah saya kenal. Ada juga pengusaha lain yang pernah saya
temui, berterus terang tidak pakai uang bank dalam menjalankan bisnisnya. Yah
mereka punya uang cash yang dikelola dengan sangat baik. Sebuah perjuangan yang
butuh nyali dan perhitungan. Hanya orang-orang berani yang bisa melakukannya.

Jadi beberapa hal yang bisa kita
jadikan catatan adalah:
1. Berlatih tekun dengan kelebihan yang kita miliki hingga membuahkan kompetensi.
2. Tabah dalam menjalani masa-masa sulit
3. Tetap optimis walaupun kondisi ekonomi Nasional tidak menungtungkan
4. Berani mencoba, dan memulai dari bawah
5. Tidak selalu mengandalkan hutang bank

Mohon maaf jika ada kata-kata
yang salah, mohon dikoreksi dan wassalam. Selamat Berjuang Kawan-kawan TDA
Bandung! Good Luck!
( Muhammad Nur Riko Putra/TDA Bandung)