Hari Jumat kemarin, 1 Oktober 2013, KMB kembali digelar. Ini adalah pertemuan ketiga dengan Pak Fauzi Rahmanto sebagai pematerinya. Kalau dipertemuan sebelumnya peserta diberi materi mengenai kepemimpinan, maka di pertemuan kemarin peserta belajar menjadi Coach. Wow..menarik bukan?!

 

Mengapa keahlian coaching penting?

Pada awal tahun 2012, dunia dikejutkan oleh pengumuman bangkrutnya Kodak, sebuah perusahaan yang pernah sangat berjaya di industri kamera & film. Menurut para ahli, kejatuhan Kodak disebabkan oleh kultur perusahaan yang terlalu sentralistis: semua keputusan dan arahan harus datang dari pusat. Ibarat kereta api, sistem seperti ini tak ubahnya seperti model kereta lama: lokomotif bergerak maju sementara gerbong-gerbong dibelakangnya tinggal ngikut aja.

Saya yakin teman-teman sering menemui kondisi semacam ini di perusahaan teman-teman. Sebagai pebisnis, tentu akan sangat melelahkan apabila anak buah kita sangat tergantung ke kita untuk bergerak ataupun mengambil keputusan. Idealnya, kita ingin punya anak buah yang penuh inisiatif dan apabila menemui masalah bisa mencari solusi sendiri untuk menyelesaikan masalah yang muncul. Model sistem seperti ini adalah ibarat kereta super cepat, dimana masing-masing gerbong juga memberikan dorongan untuk maju.

Bagaimana supaya anak buah kita bisa bergerak sendiri tanpa harus banyak campur tangan kita sebagai leader? Jawabannya adalah dengan coaching. Sebagai pemimpin, kita perlu membiasakan untuk memberikan coaching, supaya anak buah kita terbiasa untuk berpikir dan bertindak secara mandiri.

 

Serunya latihan coaching di KMB Bandung

Nah, di KMB kemarin, setelah memberikan teori dan latar belakang mengenai coaching, Pak Fauzi langsung meminta peserta untuk langsung praktek coaching di kelompok kecil yang berjumlah 3 orang. Tentunya Pak Fauzi sebelumnya sudah memberikan contoh dan guideline pertanyaan apa saja yang bisa dilontarkan oleh coach kepada coachee (orang yang lagi di-coach).

Tentu saja suasana KMB pun menjadi heboh dan lucu. Mereka yang kebetulan terpilih sebagai coach dadakan, beberapa nampak ada yang gugup dan tidak lancar dalam memberikan pertanyaan kepada coachee sambil sesekali melihat contekan di buku catatannya. Alhamdulillah setelah diulang beberapa kali, akhirnya para peserta pun menjadi lebih lancar karena semakin terbiasa.

Di akhir, Pak Fauzi kembali mengingatkan bahwa keahlian coaching ini adalah sebuah tools yang sangat powerful dalam memberdayakan (empowering) orang lain, khususnya anak buah. Untuk itu beliau menyarankan supaya peserta KMB rajin-rajib berlatih teknik ini. Salah satunya adalah dengan melakukan peer-coaching, yang sesi coach yang dilakukan oleh sesama peserta KMB.

Wahh terima kasih Pak Fauzi atas ilmunya. Benar-benar berguna banget buat kita para pengusaha. Memang deh KMB Bandung ini top banget. Materinya bener-bener “nendang” cuy! Sampai jumpa di pertemuan KMB berikutnya 🙂

 

Salam,
M. Yusuf Adiwiyarso
Smuufy.com | Web Design & Development Studio