Salah satu member TDA Bandung menceritakan kisah perjuangan untuk melawan kelumpuhan yang dideritanya, bagaimana jalan ceritanya? Mari kita simak.

Saya adalah anak pesantren, anak kobong, terlahir dari keluarga yang sederhana yang memiliki pendidikan agama cukup baik. Seperti anak lain pada umumnya saya menyukai hiking, pergi ke gunung menghirup udara segar sambil menikmati keringat yang mengucur deras. Hampir satu minggu sekali saya lakukan itu, Papandayan, Guntur, Tangkuban Perahu sudah saya taklukan. Selain itu saya pun memilih olahraga Tifan, olahraga beladiri muslim dari Mongol yang dapat membuat tubuh saya lebih bugar dan membuat lebih percaya diri jika jalan sendirian. Saya pun sangat menikmati semua kegiatan saya kala itu.

Tapi semua itu berubah dengan cepat.

Masih terbayang dalam ingatan, ketika itu usia saya 15 tahun kelas 3 Tsanawiyah, saya pulang kampung, mudik ke rumah di Karawang karena libur panjang. Saya berleha-leha menikmati malam indah bersama keluarga, saking nikmatnya saya tertidur pulas, otomatis paginya saya kesiangan salat subuh, saya kaget. Dengan sekuat tenaga ditambah panik saya loncat dari tempat tidur menuju tempat wudlu, tapi tiba tiba BRUK! Saya terjatuh. Tenaga hilang entah kemana, lemas menderita. Perlahan saya gerakan jari jari kaki saya ASTAGFIRULLAH saya tidak dapat menggerakan jari kaki! Saya ambil napas dalam pelan-pelan dalam sembari istigfar mensugesti diri saya itu semua karena saya lemas bangun tidur, saya coba lagi menggerakan jari, tetap tidak bisa, saya lakukan itu berulang-ulang tapi hasilnya tetap sama, tidak dapat digerakan. Saya panik,  saya panggil ayah, saya tidak dapat bangun.

Seiisi rumah kaget bukan kepalang, panik. Ayah dengan terburu-buru mencari tukang urut di desa kami, tanya satu tentangga ke tetangga lain. Semua persendian dicek satu persatu, digerak-gerakan agar terpancing, agar dapat bergerak kembali. Tapi semua nihil tanpa hasil, persendian saya normal tidak ada apa-apa, tapi tetap tidak bisa menggerakan apapun di kaki saya. Ayah lalu menggotong saya ke mantri yang ada di Puskesmas, mantri adalah semacam dokter atau tabib di kampung kami. Saya dicek dari atas hingga bawah, seluruh persendian, saraf, semua jari dan kaki, lagi lagi Mantri kebingungan, semuanya normal, baik-baik saja tidak ada masalah kesehatan dan tetap kaki saya tidak dapat digerakan. Mantri memberikan beberapa obat dan vitamin, dengan harapan semoga esok akan sembuh, kami semua pun berpikir hal yang sama. Besok pasti akan sembuh.

Sesampainya di rumah, obat dan vitamin saya minum dengan teratur, saya pun tertidur pulas. Keesokan harinya dengan rasa percaya diri akan sembuh saya coba gerak-gerakan kaki saya, saya coba menggerakan jari kaki. Bismillah! Tetapi tidak ada perubahan, saya masih tidak dapat bergerak! Kondisi saya tetap sama dengan hari kemarin, saya sedih, saya menangis. Saya tidak tahu penyakit apa ini, karena untuk mengetahui penyakit apa ini harus pergi ke rumah sakit dan hal itu bukanlah hal yang mudah, kami tidak sanggup karena tidak ada biaya, teman Ayah yang stroke pun menangis mendengar kabar ini, anak muda masih kecil tapi sudah lumpuh. Sebulan lamanya berita itu tersiar ke seluruh kampung, para tetangga mulai berdatangan menengok serta mendoakan saya agar lekas pulih kembali. Hari berganti hari minggu berganti minggu kaki saya tidak dapat digerakan hingga saya sadari bahwa saya LUMPUH dan tidak tahu sampai kapan kelumpuhan menderita saya. mungkin selamanya.

Ditengah kondisi lumpuh berbaring di atas kasur saya harus tetap melakukan apa saja yang positif dan bermanfaat. Saya coba menghapal Al-Quran saya fokus disitu. Hari berganti hari lagi minggu berganti minggu hingga tidak terasa satu tahun saya lumpuh berdiam di atas kasur, dan selama itu Alhamdulillah saya mampu menghapal 8 Juz. Satu tahun bukan waktu yang sebentar, kaki saya terus mengecil hingga tersisa tinggal tulang dan kulit, tiap pagi saya jemur tapi bukannya berangsur membaik tapi malah menghitam karena sering dijemur.

Setiap hari Ayah dan Ibu menangis melihat kondisi saya, mereka ragu saya akan sembuh, saya hanya tersenyum. Mereka pun heran kenapa saya tidak sedih, saya riang seperti biasa, saya tampak ceria. Ya, memang saya ceria tapi saya berusaha menyembunyikan hal sesungguhnya, hati kecil saya sangat terpuruk, saya jatuh, saya itu lumpuh! sampai kapan saya akan terus begini? saya ingin seperti orang lain beraktifitas normalnya anak muda, tapi bagaimana lagi sudah berobat kemana mana tetap tidak ada hasil.

Tapi semakin saya mendalami Al-Quran semakin saya mantap dengan keyakinan saya jika saya bisa sembuh total. Orang tua saya boleh ragu, tapi saya tidak ragu saya tetap yakin. Allahlah yang memberikan kelumpuhan ini, dan Allalah yang akan menyembuhkan, saya yakini hal itu. SAYA PASTI SEMBUH.

Keyakinan inilah yang membuat saya terus berikhtiar, orang lumpuh tahunan biasanya putus asa, tapi tidak dengan saya, saya yakin Allah pasti menyembuhkan saya. Hingga akhirnya saya bertemu dengan Ustdz sekaligus dokter di Bandung, beliau orang Mongolia dan ternyata beliaulah pendiri olahraga Tifan yang saya geluti ketika saya masih sehat. Tubuh saya diperiksa menggunakan gunting tumpul, ditekan urat sarafnya dari kaki hingga punggung. Sakitnya luar biasa saya belum pernah merasakan sakit seperti ini. Jika tukang urut, mantri dan orang yang pernah saya datangi mengatakan saya baik-baik saja tidak dengan beliau. Ada urat saraf yang terjepit katanya, saya tidak paham tapi saya tambah yakin akan ada kemajuan.dan ternyata benar ada reaksi ketika itu, saya merasakan kehangatan di kaki walau masih belum bisa digerakan, saya disuruh makan makanan bergizi seperti bubur kacang dan sebagainya.

Singkat cerita setelah beberapa kali therapy, saya mulai bisa menggerakan jari saya, saya menangis bahagia, saya sangat senang. Allah mendengarkan doa saya dan orang tua. jempol kaki mulai bergerak , beberapa hari kemudian jari tengah dapat digerakan. Subhanallah kebahagiaan yang tak tertandingi, saya tambah bergairah untuk sembuh. Saya pun mulai bisa jongkok, merangkak, seperti bayi belajar berjalan. Saya lakukan hal itu setiap hari berulang dan berulang. Saya beranikan untuk naik sepeda, saya coba menggerakan pedal walau belum bisa berjalan, orang tua saya menangis bahagia melihat saya memiliki kemajuan yang signifikan. Saya menaiki sepeda, saya keliling kampung sambil menangis dan berteriak dengan kencang “SAYA BISAAAAAAA!!!!!” saya lakukan itu terus menerus tiap hari hingga akhirnya saya bisa lari, pushup,  salto kedepan dan kebelakang, berenang hingga bermain bola. Dan akhirnya saya pun normal kembali latihan Tifan.

Saat kembali ke Tifan semua kaget karena hampir 2 tahun saya lumpuh, mereka tidak percaya saya akan kembali normal. Dengan keyakinan kepada Allah SWT semua akan mudah dilalui, sekarang saya semakin sehat, saya kembali beraktifitas. Alhamdulillah saya bisaaaa.

 

Pelajaran salah satu teman kita ini patut ditiru, ditengah keputusasaan masih ada harapan dan keyakinan, semua pasti berubah.

Sesungguhnnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang ada pada diri mereka (QS. 13:11)

Pengalaman sukses Anda di masa lalu akan menjadi cambuk panas ketika Anda sedang dilanda ujian berat. Jadikan itu semangat Anda jika Anda pernah mengalami hal lebih buruk dari ini. Tetap semangat dan tetap yakin. Allah bersama orang-orang bertakwa.

Dengan  semangat dan keyakinan. Semua pasti berubah.