Tour+de+Gn+Kasur+07
Sudah lama sekali rasanya saya tidak merasakan lagi sejuknya udara dan segarnya air di pegunungan, sampai suatu waktu dalam pertemuan para pupuhu TDA Bandung disampaikan rencana sebelum memasuki bulan puasa untuk survey ke lokasi “Desa Binaan TDA Bandung” yang berlokasi di Gunung Kasur. Tanpa berpikir panjang lagi (karena mendengar judulny aja sudah gunung) saya langsung mengajukan diri menjadi sukarelawan, walaupun belum tau apa yang mau dikerjakan.. yang penting bisa pergi ke gunung, sedikit menjauh dari padatnya kehidupan kota Bandung
Senin pagi jam 10 saya sudah berada di lokasi pertemuan, Masjid Agung Ujung Berung. Dengan berbekal informasi singkat dari Aa’Gyn mengenai lokasi yang cukup dekat hanya ±30menit perjalanan dari Masjid Agung tersebut, membuat rasa ingin tau saya semakin besar untuk segera melihat seperti apa sih Desa Binaan TDA yang ternyata cuma butuh waktu setengah jam dari Alun-alun Ujung Berung itu. Setelah menghabiskan secangkir kopi sambil bertukar pikiran dengan Aa’Gyn, akhirnya datang juga Kang Deni yang ditunggu-tunggu, sayang sekali Kang Yasin berhalangan datang hari itu, tapi “the show must go on” dan tanpa buang waktu lebih lama lagi kita langsung berangkat menuju lokasi, dan perjalanan pun dimulai.
Tidak terasa ternyata sudah lebih setengah jam kita mengendarai motor menuju lokasi tersebut, kali ini perjalanan semakin menjauh dari perkampungan penduduk, melewati hutan dan tebing-tebing curam. Sepanjang perjalanan tidak terlihat adanya penerangan di jalan (sepertinya kalau perjalanan dilakukan malam hari akan lebih berbahaya, karena minim cahaya dan tidak adanya pagar pembatas di tepi jurang), kali ini motor Kang Deni sudah hampir kehabisan tenaganya ketika melewati jalanan yang lebih terjal dan curam. Akhirnya setelah melalui puncak tertingginya, tidak lama kemudian kami melihat sebuah lapangan yang di kelilingi pagar kayu dengan sebuah warung kecil di pojok lapangan tersebut, sampailah kita di lokasi Gunung Kasur yang dimaksud.
Subhanallah.. pemandangan yang luar biasa, sebuah lokasi yang mungkin kita biasa temukan di televisi apa bila adzan maghrib berkumandang atau mungkin seperti dalam Film Layar Lebar “Leher Angsa” yang juga mengangkat cerita mengenai kehidupan di pegunungan.
Ternyata sudah sekitar setahun lamanya TDA Bandung tidak mengunjungi kembali Desa Binaannya tersebut, hangatnya sambutan dan keramahan yang diberikan masyarakat sekitar terasa seperti layaknya saudara yang bertemu kembali.
 Setelah sejenak meregangkan otot-otot yang tegang dalam perjalanan, kami memutuskan untuk Sholat di Masjid Yadul ‘Ulya yang dibantu pembangunannya oleh TDA pada kesempatan terdahulu. Masjid yang terlihat kecil tapi kokoh, seperti layaknya TDA Bandung sekarang yang berdiri semakin kokoh dan solid J
Entah darimana datangnya perasaan tenang dan tentram saat memasuki pekarangan masjid itu, tapi perasaan itu bertambah lagi setelah terkena air wudhu yang begitu segarnya membasuh tubuh ini, dan kita pun melaksanakan sholat dhuhur bersama dengan khusyu.
Belum selesai rasa takjub saya pada indahnya tempat ini, lagi-lagi mata ini di sajikan pemandangan hijau nan asri yang menyegarkan mata dan menentramkan hati melalui jendela masjid setelah selesai sholat dhuhur. Subhanallah..
Setelah sejenak mendinginkan hati dan pikiran, kami berkeliling untuk melihat kondisi desa yang hanya di huni oleh sekitar 38 kepala keluarga tersebut. Ternyata dibalik semua keindahan alam yang di suguhkan desa ini, kondisi desa ini ternyata jauh sekali dari kata layak. Dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai pekerja (buruh) serabutan di perkebunan kina, sebagian dari mereka juga mengandalkan dari pembiakan dan peternakan sapi.
 Ternyata jaringan listrik ke daerah ini saja baru masuk sejak 2010 kemarin, belum lagi kondisi rumah warga yang hampir semuanya terbuat dari bilik, bahkan MCK yang digunakan bersama-sama juga masih terlihat dengan atap dan pintu yang kurang memadai (kurang memenuhi syarat sebagai MCK yang layak). Sungguh luar biasa perjuangan warga desa ini, mereka banyak memanfaatkan sumber daya alam yang ada untuk bertahan hidup setiap harinya, bahkan untuk menuju desa/pasar terdekat membutuhkan waktu sekitar 15-30 menit menggunakan kendaraan bermotor (dengan kondisi medan yang penuh tantangan dan minim sekali pencahayaan di malam hari).
Melihat kondisi desa tersebut, rasanya seperti ada tombak yang menancap tepat di hati ini *jleb!. Rasanya baru kemarin saya mengeluhkan banyak hal, merasa kekurangan lah, dsb. Seharusnya saya lebih banyak bersyukur atas apa yang saya miliki, karena saudara-saudara kita di desa ini benar-benar lebih memerlukan bantuan.
Sempat terlintas dalam pikiran saya bagaimana jika saya yang berada di desa ini, bahkan untuk mengambil hak nya mereka dari Pemerintah akibat dampak kenaikan BBM yang berupa BLSM saja masyarakat disini berjubel-jubel menggunakan truk untuk ke Kantor Pos Ujungberung (kalau truknya sudah penuh dengan penduduk RT lain dengan lokasi yang lebih jauh, maka mereka menunggu giliran truk berikutnya datang untuk menjemput).
Kemudian terlintas lagi pertanyaan dalam diri saya, apa dengan sejumlah bantuan dari pemerintah tersebut maka kebutuhan mereka bisa terpenuhi? sejumlah uang yang mungkin kita keluarkan tanpa beban, baik untuk urusan bisnis maupun konsumsi pribadi. Jadi, untuk apa kiranya para bapak-bapak dan ibu-itu berdiri berjubel diatas truk rela berhimpitan dan capek mengantri?
Sore hari menjelang, dan kami pun bersiap untuk kembali ke peradaban dengan berbekal informasi dan rencana yang telah dibuat untuk melaksanakan kegiatan sosial TDA Peduli di Bulan Ramadhan ini. Sementara para Bapak dan ibu-ibu tadi masih terlihat sabar dan penuh harap menunggu truk berikutnya datang, dan membawa mereka menjemput harapan dari keluarga dan anak-anak mereka agar dapat menikmati indahnya lebaran ini. Walaupun semua itu tidak cukup untuk membeli baju atau sepatu baru untuk anaknya (dengan semua harga bahan pokok yang sudah melambung tinggi), tapi mungkin dengan sekedar menyajikan ketupat, opor ayam dan sambel goreng kentang sudah cukup untuk membawa suasana Iedul Fitri ke rumah mereka.
Sungguh pengalaman luar biasa yang saya alami di Gunung kasur ini, teringat perkataan Aa’ Gyn pada awal kopdar saya di event TDA Bandung. Kita mungkin sama sama mencintai keindahan alam, tetapi apabila kecintaan kita terhadap alam terebut dapat sekalian memberikan manfaat terhadap masyarakat sekitar maka apa yang kita lakukan tersebut akan lebih berarti.
Sedikit mengutip perkataan dari Buya Hamka “Kalau kita hidup sekedar mencari uang/keuntungan semata, maka apa bedanya kita dengan monyet di pinggir jalan yang juga mencari uang untuk mereka makan? maka jadikan lah apa yang kita lakukan itu lebih berarti”.
Mari bersama-sama kita menyebarkan kebaikan dan berbagi kebahagiaan dengan saudara kita yang membutuhkan, walaupun sedikit yang dapat kita berikan InsyaAllah akan memberikan banyak manfaat untuk saudara kita disana. Indahnya berbagi di bulan ramadhan yang suci dan penuh berkah ini.
Terimakasih pada kawan-kawan di TDA Peduli yang selalu membantu menyampaikan salam dari kami untuk saudara-saudara kita di daerah-daerah yang terpencil.
Semoga dengan apa yang saya bisa sampaikan dapat mengajak rekan-rekan untuk melakukan sesuatu yang lebih berarti, baik dibulan Ramadhan yang penuh rahmat ini dan bulan-bulan seterusnya. Amiin J
Wassalamualaikum wr wb

R. Nugroho Widaryanto