CIPELAH1 Namanya Agus Hasan. Ia biasa dipanggil Ustadz oleh masyarakat sekitarnya. Padahal usianya masih sangat mudah. Saat ini ia menginjak usia 25 tahun.

Di usianya yang sangat muda ia telah mengambil dua keputusan besar dalam hidupnya yang tidak akan pernah ia lupakan. Keputusan itu adalah dia menikah muda kemudian memutuskan untuk mengabdi di pedalaman, mendidik masyarakat mengenal Islam lebih dalam.

Ia menikah di usia 22 tahun dengan seorang gadis bernama Nurhasanah yang usianya 5 tahun lebih muda. Setelah menikah sang ayah memintanya untuk mengabdi di pedalaman Kabupaten Bandung, tepatnya di kampung Legok Bedo Desa Cipelah, Rancabali Kabupaten Bandung.

Permintaan sang ayah bermula, saat adiknya, Ajengan Solihin pergi ke Cipelah untuk ceramah pada tahun 2012. Lokasi ini pertama kali ia kunjungi. Masyarakat pun menerima dakwah beliau dan ia kembali melakukan ceramah secara rutin sebulan sekali.

Di suatu kesempatan usia ceramah, salah seorang warga menghampiri Ajengan Solihin. Ia menawarkan sebidang tanah dengan luas 800 meter persegi untuk dibeli dengan harga murah. Namun ada satu syarat yang diajukan oleh warga ini. Syaratnya adalah pergunakan tanah ini untuk kebaikan. Ajarkan masyarakat tentang Islam.

Mendapat tawaran tersebut Ajengan Solihin pun menyampaikan kepada kakaknya. Sang kakak kemudian memanggil anaknya yang tidak lain Agus Hasan. Dengan nada yang lembut ia menyampaikan nasehat sekaligus permintaan kepada anaknya yang lulusan pesantren Ciamis ini.

“Yeuh.. elmu hidep kudu aya manfaatna. Hidep kudu nyieun pasantren. Tuh aya lahan di Cipelah. Prak geura ajarkeun Islam kanggo balarea.” Begitu tutur sang ayah. (Nak ilmumu, mesti ada manfaatnya. Kamu harus membangun pesantren. Tuh ada tanah di Cipelah. Silakan ajarkan Islam untuk masyarakat)

Tanpa banyak pertimbangan, Ustadz Agus pun menerima tawaran tersebut sebagai bentuk pengabdian anak kepada bapaknya. Lahan tersebut kemudian dibeli secara patungan oleh dia dan ayahnya. Dari Bandung, Ia kemudian membawa anak dan istrinya ke Cipelah.

Cipelah merupakan desa terpencil yang jauh dari hingar bingar perkotaan. Lokasinya terletak di ujung selatan Kabupaten Bandung dan berbatasan dengan Kabupaten Cianjur selatan. Menuju ke lokasi ini bisa menghabiskan waktu satu jam dari arah Ciwidey menggunakan kendaraan motor atau mobil.

Karakteristik desa ini dihiasi oleh pegunungan, sungai dan perkebunan teh. Mayoritas warga di Cipelah adalah buruh pemetik teh. Sebagiannya lagi mengolah potensi alam dengan memproduksi gula merah dari tumbuhan aren (Arenga pinnata).

Saat ini sudah hampir 6 bulan Ustadz Agus mengabdi di Cipelah. Di rumahnya yang sangat sederhana terbuat dari papan-papan ia mengajarkan ilmu kepada 200 anak anak dari berbagai kampung di Cipelah dengan pembagian waktu siang dan selepas maghrib.

Sedangkan untuk orang dewasa dan orang tua ia mendatangi masjid masjid kecil di perkampungan yang dilakukannya secara rutin seminggu sekali dengan bergilir antara satu kampung ke kampung lainnya. Disana Ustadz Agus mengajarkan hal hal dasar tentang tata cara shalat serta ibadah wajib lainnya.

Meskipun baru menginjak setengah tahun di Cipelah keberadaan ustadz Agus sudah berdampak positif bagi masyarakat sekitar. Masyarakat berbondong-bondong datang dari kampung tetangga.

Mereka meminta beliau untuk menerima anak anaknya sebagai murid di rumah Ustadz Agus. Dengan senang hati ia pun menerimanya walaupun kondisi rumahnya sederhana.

Begitulah sosok Ustadz Agus Hasan. Pemuda yang rela meninggalkan kota untuk mengabdi di pedalaman. Ia tidak hanya mengorbankan waktu mudanya tapi ia juga mengorbankan uangnya yang telah ia kumpulkan untuk membeli lahan dan membangun ‘peradaban’ di kampung terpencil itu.

Bahkan sebagian lahannya yang telah ia beli akan diwakafkan untuk membangun masjid berikut pesantren. Lokasinya persis di depan rumahnya. Karena persis di depan rumahnya maka setiap pagi ketika ke luar rumah ia selalu melihatnya.

Ia membayangkan sebuah bangunan pesantren berdiri kokoh di depannya. Disana akan terdengar suara nyaring dari anak-anak yang mengaji dan menghafal Alquran setiap siang dan malam.

Membayangkan itu, kadang membuatnya tersenyum. Tersenyum karena ia menyadari dengan keterbatasan finansialnya akan sangat berat membangun apa yang ia dan ayahnya impikan selama ini.

Hal itu menjadi tantangan bagi dirinya. Namun ia yakin tidak ada yang mustahil bagi Allah untuk membantu hambanya yang berbuat kebaikan. Apalagi kebaikan ini menyangkut hajat masyarakat banyak. Semoga apa yang ia impikan bisa terlaksana. Aamiin.

Investasi Surga5

Rekan-rekan TDA Bandung, beberapa hari lalu Tim Divisi Sosial TDA Bandung berkesempatan berkunjung ke rumah Ustadz Agus dan berbincang santai tentang kondisi Cipelah dan keinginannya membangun pesantren.

Dari hasil kunjungan tersebut kami berkeinginan membantu beliau untuk mewujudkan impiannya tersebut melalui program rutin TDA Berbagi.

Melalui program ini, seperti yang sudah kita ketahui, sudah banyak membantu masyarakat. Seperti merenovasi masjid, membangun masjid, berbagi hewan kurban, hingga bantuan untuk masyarakat yang tertimpa bencana.

Program TDA Berbagi tahun ini akan kita fokuskan untuk membangun Sarana ibadah dan pendidikan di Cipelah Kabupaten Bandung.

Sesuai dengan Filosopi komunitas Tangan Di Atas, yaitu Bersama Menebar Rahmat. mari kita bantu mereka mewujudkan impian mereka. Pemberian berapa pun akan sangat berharga buat mereka. Dan jika kita himpun bersama-sama tentu akan menjadi besar. (hidup adalah udunan)

Donasi bisa disalurkan melalui rekening bersama

BCA 0860508567 a/n Ade Wahyudi/ Hernawan A W

Konfirmasi Transfer bisa melalui email ke

denikoerniawan@gmail.com

“Barangsiapa yang membangun masjid, maka Allah akan bangunkan baginya semisalnya di surga.” (HR. Bukhari, 450 dan Muslim, 533)

Salam Bakti,

Aa’gyn (komandan program khusus tda bdg)