Syahdan, hiduplah seorang pangeran di sebuah kerajaan. Hidupnya serba bekecukupan. Namun demikian pangeran tersebut selalu gelisah. Batinnya terasa hampa.

Sering dia mendengar kisah para pencari kebahagiaan hakiki yang meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup menyendiri. Diam2, terbersit di benaknya untuk mengikuti jejak mereka. Namun dia masih ragu.

Suatu kali ketika sedang berburu, dikejauhan dia melihat hyena yang sedang duduk di pinggir sungai. Tanpa menunggu, sang pangeran langsung bersembunyi di balik pohon dan menyiapkan busur dan anak panahnya.

Ketika dia berkonsentrasi penuh membidik si buruan, tiba2 dia menyadari bahwa semak2 di belakang hyena tersebut bergerak. Ada hewan lain yang datang! Sang pangeran pun memilih menunggu.

Tak disangka, muncul singa besar dari balik semak2 itu. Mulutnya nampak merah penuh bercak darah. Sang pangeran terkesiap. Namun dia juga heran: si hyena kok adem ayem saja ditempatnya.

Setelah mengamati lebih teliti, baru lah sang pangeran menyadari: hyena tersebut cacat; dua kaki depannya buntung. “Ah tamatlah riwayat hewan malang ini”, pikir sang pangeran.

Si singa semakin mendekat ke arah hyena. Sang pangeran pun mengubah target bidikan panahnya. Rencananya: begitu si singa memakan hyena malang tersebut, dia akan memanah hewan buas itu.

Di luar dugaan, si singa rupanya datang untuk memberi makan hyena malang tersebut. Dengan setengah tak percaya, sang pangeran melihat sendiri bagaimana singa tersebut membuka mulutnya dan meletakkan daging segar yang sedari tadi dia simpan dimulutnya kepada hewan malang itu.

Sejurus kemudian singa belalu dan pangeran pun terpaku. Sang pangeran merasa bahwa apa yang dia lihat barusan adalah sebuah petunjuk. Selama ini dia ingin meninggalkan keduniawian dan hidup sebagai petapa hutan, namun dia masih ragu karena dibayangi ketakutan tentang bagaimana dia nanti bisa makan, minum, dan bertahan hidup.

Kini keraguan itu hilang. Sang pangeran merasa bahwa kehidupan pastilah sudah diatur sedemikian rupa sehingga masing-masing makhluk pasti sudah mendapat bagiannya.

Sesampainya di kerajaan, sang pangeran berganti pakaian layaknya penduduk biasa dan mengemasi bekal seadanya. Dia bertekad menjadi meraih  kebahagiaan dengan menjadi petapa hutan. Urusan makan tidak perlu dirisaukan. “Pasti ada penduduk sekitar yang mau memberi derma kepada seorang petapa” pikirnya.

Malam semakin larut. Dengan mengendap-endap, sang pangeran meninggalkan istananya menuju hutan. Perjalanan hidupnya kini memasuki babak baru.

Fajar menjelang. Sang pangeran pun tiba di dekat sungai tempat hyena malang itu tinggal. Sengaja dia pilih lokasi itu untuk tempat bertapa sebagai pengingat mengapa dia memilih jalan ini.

Setiap pagi, dengan tekun sang pangeran bersemedi untuk meraih pencerahan dan menggapai kebahagiaan yang hakiki. Menjelang siang, dia akan pergi ke pinggir sungai untuk melihat peristiwa langka: singa memberi makan hyena. Sore harinya, dia lanjut bersemedi sampai tengah malam.

Dengan rutinitas seperti itu, hari demi hari keyakinannya semakin mantap. Tetapi tidak perutnya. Walaupun kadang ada penduduk yang lewat didepannya, namun sampai hari ketiga tidak ada satupun yang memberinya derma makan.

Seminggu telah berlalu tanpa pernah sekalipun ada yang memberinya makan. Fisik sang pangeran semakin lemah. Jangankan untuk berdiri, untuk duduk bersila saja sudah susah.

Di hari ke-15, dia hanya sanggup berbaring saja. Dalam keadaan lemah dan kelaparan yang sangat, dia mendengar suara mendekat dari semak belukar di belakangnya.

Sang pangeran sudah pasrah. Suara dari semak2 yang tadi sayup kini semakin jelas mendekat. Dengan sisa2 kekuatannya dia melantukan semua doa yang diingatnya.

Tak lama kemudian, sosok dari balik semak2 itu tiba dihadapannya. Ternyata dia adalah seorang pertapa tua. Dengan tatapan iba, sang petapa tua pun menolong sang pangeran yang sudah lemah tak berdaya. Didudukannya sang pangeran, lalu diberikannya bekal makanannya kepada sang pangeran.

Setelah sang pangeran sudah agak kuat, sang pertapa tua bertanya apa gerangan yang telah terjadi. Sang pangeran pun bercerita dari awal bagaimana sejak dia melihat hyena yang diberi makan singa sampai akhirnya memutuskan jadi pertapa dan berakhir seperti ini.

Tak disangka-sangka, sang pertapa tua pun menghardik lantang: “Dasar pemuda bodoh!”. Dalam kebingungan sang pengeran bertanya “Loh kenapa Guru? Apakah salah aku memilih jalan ini? Aku hanya ingin meraih kebahagiaan sepertimu, Oh Guru.”

Dengan lembut sang pertapa tua menjawab “Apa yang kau saksikan memang adalah hikmat kehidupan. Tapi mengapa kau dengan bodohnya memilih menjadi seperti hyena dan bukannya menjadi seperti SINGA?!”

Salam,
MYA