Kalau kita membahas kunci sukses bisnis, khususnya dalam hal branding & marketing, nama Sosro seringkali muncul sebagai bahasan studi kasus. Di Indonesia, siapa sih yang tak kenal Teh Botol Sosro?

Sosro memang hebat. Juga revolusioner. Ketika orang Indonesia masih terbiasa minum teh secara manual (pakai gelas dan dseduh), Sosro dengan beraninya mengeluarkan produk teh dalam kemasan botol. Terobosan ini ternyata sukses besar.

Tidak berhenti disitu saja. Di era modern ini Sosro kembali dengan cerdas mampu menancapkan brandnya dengan kuat melalui tagline yang sangat powerful: “Apapun makanannya, minumnya tetap Teh Botol Sosro”. Sekali lagi, Sosro memang hebat!

Seolah ingin mendompleng kesusesan Sosro, banyak perusahaan yang kemudian “mengekor”. Dan mereka pun turut sukses mereguk keuntungan dari berjualan minuman teh dalam kemasan.

Namun, yang sering kali terlupakan adalah bahwa dibalik kesuksesan selalu ada dukungan dan kontribusi dari orang-orang hampir tidak pernah ter-ekspos.

Salah satu tulang punggung produsen minuman teh dalam kemasan adalah para pemetik teh. Bagi sebagian besar penduduk Buni Kasih, pekerjaan memetik teh ini adalah pekerjaan turun-temurun.

Mereka inilah yang setiap pagi dengan rajin pergi ke kebun teh dan bekerja di sana sampai petang menjelang. Gajinya: Rp 600.000 / bulan. Duh, saya kok nggak kebayang gaji segitu itu buat hidup sehari-hari seperti apa. Internet MNC saja tagihannya 450ribu tiap bulan. Belum lagi bayar sewa rumah.

Sebenarnya ada peluang lain untuk mendapatkan penghasilan tambahan, yaitu dari hasil berkebun di ladang sendiri. Sayang, karena saat ini musim kemarau berkepanjangan, banyak tanaman mereka di ladang yang mati.

Lalu ini salah siapa? Ahh..ini bukan tentang siapa yang salah karena yang terpenting adalah apa yang bisa kita lakukan untuk mereka. Memang, untuk bisa menghadirkan perubahan yang besar dan permanen jalannya akan panjang dan berliku.

Namun, kawan, kita bisa kok menghadirkan momen kebahagiaan sejenak untuk mereka. Tidak perlu yang susah-susah dan berat-berat. Sederhana saja: cukup dengan berkurban untuk mereka. Kalau kita berkurban untuk mereka, maka ini akan menjadi momen kurban yang pertama kali dalam sejarah kampung Buni Kasih.

Ahh..saya jadi terkenang momen di Gunung Kasur dulu. Ada perasaan yang tak bisa dilukiskan ketika melihat wajah-wajah penduduk setempat yang sumringah kala menerima bantuan. Saya yakin, dengan bantuan rekan-rekan semua, kita bisa menghadirkan momen kebahagiaan itu.

 

Dan kini..
Saatnya kita bergerak kembali
Untuk Buni Kasih

 

Salam,
MYA

Informasi dan Konfirmasi Donasi:
Deni Koerniawan: 0821-2908-2724

Harga Domba Kurban: Rp 2.800.000,- / ekor
Rekening Divisi Sosial TDA Bandung
BCA 7771509332 an Hernawan Adi Wibowo

Kami juga menerima sumbangan pelengkapan sekolah (buku, alat tulis, dll) dan pakaian layak untuk warga Kampung Buni Kasih.