Rekans,

Saat ini saya sedang baca buku 3rd alternative, penulisnya Stephen Covey.

Sebenarnya ada dua pengarang yang benar-benar mempengaruhi saya, yang pertama Stephen Covey, dan yang kedua Dale Carnegie. Stephen Covey mengajarkan 7 perilaku orang yang efektif, sedangkan Dale Carnegie mengajarkan bagaimana berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang.

Kembali lagi ke buku 3rd alternative. Sejarahnya kenapa buku ini akhirnya saya baca, awalnya saya di gramedia lihat-lihat buku, eh ketemu buku yang ditulis oleh stephen covey. Karena mata saya pertama kali hanya tertuju di nama penulisnya membuat saya langsung mengambil buku.

Ketika buku sudah saya beli, sebulan kemudian saya coba baca judulnya, ‘3rd alternative’ yaah kok kurang menarik ya judul bukunya. Saya berpikir, dan beralasan ‘saya setiap hari setiap saat di pekerjaan atau di luar pekerjaan berpikir alternatif ketiga”, akhirnya dengan enggan saya memulai membaca buku ini karena sayang sudah terlanjur terbeli, dengan pikiran yang sudah dipenuhi ‘ya.. saya sudah melakukan cara ini dari dulu’. Disaat mulai membacanya ketika sudah memasuki tengah bab satu tentang penjelasan apa itu 3rd alternative (halaman ke 100an), pikiran saya langsung berubah, waw, ini cara baru untuk bersinergi yg benar-benar sinergi, Sinergi yang diatasnya level win – win solution.

Jika win – win solution adalah solusi dengan pendekatan kompromi yang membuat kedua belah pihak puas. Namun Sinergi menggunakan pendekatan pencarian solusi yang kedua belah pihak merasakan suasana kegembiraan dan keceriaan… Kenapa solusi sinergi bisa mencapai suasana demikian? Kompromi adalah pendekatan yang mencari sebuah solusi yang kedua belah pihak bersedia untuk menghilangkan sebagian yang diinginkan masing-masing pihak untuk mendapatkan titik temu solusi, sedangkan sinergi, menggunakan pendekatan mencari sebuah solusi yang kreatif yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, yang keinginan-keinginan kedua belah pihak tidak ada yang dihilangkan, bahkan masih utuh.

Untuk mencapai sinergi, kita perlu tahu dulu apa itu Stimulus Vs Response

Di artikel kali ini saya mengulas tentang salah satu bagian dari buku yaitu stimulus vs response. stimulus vs response pernah dibahas juga di buku-bukunya Stephen yang terdahulu. Apabila kita ingin berubah ke perilaku yang lebih efektif. kita perlu mengerti dulu tentang cara kerja stimulus vs response

Pada Tubuh terdapat panca indra, melalui panca indra ini kita menerima stimulus dari luar dan akhirnya tubuh melakukan response… Misalkan, apabila telapak tangan kita letakkan di atas lilin yang menyala 5 cm, sudah pasti kita dengan cepat tarik tangan kita menjauh. Kita melakukan response menarik tangan cepat karena kita mendapatkan stimulus rasa panas di tangan kita. Contoh yang lainnya, ada anjing menggong-nggong sambil berlari mengejar kita, tahu bahwa ada anjing mengejar kita, kita akhirnya lari menjauh dari anjing tersebut. Anjing menggong-nggong adalah stimulus yang indra telinga kita dengar, kemudian kita memberikan response menoleh melihat ke sumber suara tersebut.. indra penglihatan kita menerima stimulus bahwa anjing itu berlari mengejar kita, akhirnya tubuh kita memberikan respon untuk berlari menjauh.

Begitulah kerja stimulus vs response pada tubuh kita. Panca indra menerima stimulus, dan tubuh kita memberikan response.

Ternyata Perilaku dan sikap kita mempunyai kecenderungan yang sama seperti indra kita, yaitu mengikuti pola stimulus vs response… Ketika kita menerima stimulus perlakuan dari luar, biasanya kita memberikan response balik dari perlakuan tersebut dalam bentuk sikap dan perilaku kita. Contohnya, apabila ada teman kita melecehkan harga diri kita, kita akan memberikan perilaku bertahan diri, yaitu dengan melecehkan balik teman kita. Contoh yang kedua, apabila ada partner atau team kerja kita melakukan kesalahan yang mengakibatkan masalah besar, yang masalah tersebut membuat kita jadi sangat kesal, akhirnya kita memberikan response memarahi habis-habisan orang tersebut sampai menyesal.

Pertanyaannya, apakah response kita sudah benar? yang terjadi, pada contoh pertama, ketika kita melecehkan balik harga diri teman kita, yang ada malah hubungan pertemanan akan renggang dan putus, yang akhirnya memutus banyak hubungan, hubungan bisnis, hubungan teman, hubungan silaturahmi.. Kemudian pada contoh kedua, ketika team kerja kita melakukan kesalahan, lalu kita memarahi, hasilnya team kita merasa bersalah, dan berdampak motivasinya menurun dalam jangka waktu yang panjang, yang akhirnya merugikan kita, karena kita tidak memiliki partner yg produktif lagi, dan kalau bekerja, takut-takutan, tidak bisa maksimal, takut membuat kesalahan.

Stephen menjelaskan, bahwa perilaku manusia kadang terjebak di stimulus vs response, berbeda dengan indra, apabila indra menerima stimulus, tubuh sudah mempunyai kamus response yang harus dilakukan tanpa berpikir. Sedangkan pada sikap dan perilaku, masih ada ruang bebas untuk memberikan response apa… Namun kita biasanya terjebak mengandalkan kamus-kamus response yang hanya kita punya, celakanya, kamus-kamus response nya seperti contoh perilaku di atas.
Inline image 1

Pada stimulus vs response perilaku kita, kita mempunyai ruang kebebasan untuk berpikir dan memilih. Kita bisa memilih apa response yg ingin kita berikan terhadap stimulus yang kita terima. Dengan kebebasan memilih ini, kita bisa menciptakan response yang berdampak positif yang tidak merugikan kedua belah pihak. Yang akhirnya dengan kita membiasakan untuk memberikan ruang untuk memilih, kita satu langkah untuk menciptakan sinergi.

Kita coba menggunakan contoh di atas, contoh yang pertama, ketika teman kita melecehkan harga diri kita, sebelum langsung memberikan response, kita berpikir, “kok saya dilecehkan? kenapa dia melakukan itu? response positif apa yg ingin saya berikan?” kemudian, kita bisa mengontrol & memberikan response yang positif, misalkan seperti menanyakan kepada teman kita, ‘saya minta maaf, saya ingin dengar dari anda, kenapa anda berpikir demikian?’, dan response inilah yg menjadi pintu untuk meluluhkan hati teman kita, dan akhirnya teman kita terbuka kepada kita, serta menjadikan bahan untuk evaluasi diri kita ke yang lebih baik.

Contoh yang kedua, team kita melakukan kesalahan dan menyebabkan masalah besar, daripada kita langsung memberikan response seperti contoh diatas sebelumnya yang mengakibatkan dampak negatif, kita luangkan pikiran kita untuk memilih response “response positif apa yang ingin sy berikan, agar bisa mengefektifkan semua yang bisa menyelesaikan masalah?”, dengan berpikir seperti ini, akhirnya kita bisa memberikan response yang efektif, misalkan berbicara ke team kita ‘bagus… anda saat ini belajar hal baru, bisa ceritakan lebih detail masalahnya? apa yang kamu pelajari? tolong kamu selesaikan masalah ini, & apa yang bisa saya support?’ dengan response seperti ini, team kita mengakui kesalahan yang dilakukan, mau untuk menyelesaikan & belajar dari masalahnya, dan motivasi serta produktivitas team kita tetap tinggi.

Rekans diantara ruang stimulus vs response ini kita bisa menciptakan sinergi. Daripada kita memberikan response negatif seperti memarahi, menyindir, menggampar, mencaci maki, menyalahkan dsb yang mengakibatkan sinergi tidak terjadi dan merugikan kita juga. Kita biasakan “5 detik” untuk berpikir dan memberikan response positif, yang akhirnya sinergi terjadi dan kegembiraan muncul…

Thanks

Salam

Ibrahim M Bf– on Twitter – on Facebook