Siang itu matahari begitu terik. Deretan panjang kendaraan bermotor yang merayap sejak 500 meter sebelum alun-alun membuat udara semakin panas. Macet dan gerah. Sebuah pemandangan yang lazim di Bandung dikala weekend.

Tapi itu semua tak menyurutkan langkah para pendekar untuk berkumpul di Masjid Raya Ujungberung yang terletak di seberang alun-alun. Hari itu memang spesial. Para pendekar dari berbagai pelosok negeri—Bandung, Garut, Bekasi—sengaja berkumpul untuk sebuah misi.

Selepas sholat Dzuhur, para pendekar mulai berbenah mempersiapkan diri. Tak berapa lama kemudian, iring-iringan kendaraan yang mengangkut mereka beserta amunisi mulai bergerak menyusuri jalan,menjauhi perkotaan.

Kira-kira setengah jam perjalanan, sesuatu yang asing mulai menampakkan diri. Pemukiman penduduk yang semakin jarang, rumah-rumah panggung berdinding kayu, dan pemandangan khas perbukitan dengan hamparan teras sering yang berundak-undak mengikuti kontur bukit di satu sisi dan rimbunnya hutan pinus di sisi lainnya.

Jalan yang dilalui pun semakin menantang. Bukan hanya rusak dan berlubang di sana-sini tapi juga kecuramannya yang edan. Di salah satu tanjakan yang sangat terjal, salah satu kendaraan yang mengangkut amunisi nampak kesulitan dan kehilangan tenaga. Terpaksa beberapa pendekar turun dan bersama-sama mendorong sambil sesekali menyelipkan batu di ban belakang supaya kendaraan tidak sampai mundur. Bau kampas rem pun merebak ke mana-mana. Untunglah setelah beberapa kali percobaan tanjakan curam tersebut bisa ditaklukkan. Namun mobil terlanjur menjadi panas. Akhirnya rombongan pendekar memutuskan berhenti sejenak untuk sekedar mendinginkan mobil.

Mobil boleh panas, namun hati harus tetap dingin..dan narsis..

Mobil boleh panas, namun hati harus tetap dingin..dan narsis..

Perjalanan pun dilanjutkan dan selang beberapa menit kemudian tibalah mereka di lokasi tujuan. Dengan sigap para pendekar segera turun dan membongkar amunisi. Jangan salah, amunisi yang dimaksud bukanlah granat, pelor, ataupun bedil, melainkan beras, gula, minyak goreng, sajadah, sarung, pakaian, Alquran, dll. Maklum misi mereka bukanlah misi perang melainkan misi kemanusiaan, dengan tajuk TDA Berbagi. Lokasinya tak lain tak bukan adalah Kampung Gunung Kasur yang terletak di Desa Cipanjalu Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Terletak di ketinggian kurang lebih 1000 meter dpl, kampung Gunung Kasur terasa sunyi dan sederhana. Hanya ada satu jalan utama di kampung itu—jalanan berbatu yang menurun tajam dan membelah kampung dengan rumah-rumah panggung sederhana di kiri dan kanan jalan dengan barisan bukit nan hijau sebagai latar belakangnya.

Susana kampung Gunung Kasur

Susana kampung Gunung Kasur

Penduduk kampung sebagian besar bekerja sebagai buruh lepas di perkebunan kina. Hanya segelintir saja yang sudah menjadi buruh tetap. Sebagai buruh perkebunan, tak banyak harta benda yang mereka punya. Bahkan rumah panggung sederhana berdinding anyaman bambu itu pun bukan milik mereka, melainkan milik perusahaan perkebunan. Artinya cepat atau lambat, mereka akan sampai di suatu titik dimana mereka harus angkat kaki dari rumah tersebut.

“2019 nanti umur saya 55 tahun dan masuk masa pensiun. Itu berarti saya dan keluarga harus meninggalkan rumah ini” tutur salah seorang penduduk yang sudah berstatus buruh tetap. Sulit dibayangkan bagaimana nasib mereka yang statusnya cuma buruh lepas.

Untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus, penduduk setempat mengandalkan fasilitas umum yang sangat sederhana dan terkesan bobrok. Atapnya terbuat dari seng yang kini sudah berkarat. Dinding dan lantainya kusam dan berlumut. Hebatnya lagi: tidak ada pintu! Entahlah, mungkin dulu arsiteknya mendesain fasilitas umum itu dengan konsep minimalis dan semi terbuka. Kalaupun ada yang menarik dari fasilitas umum tersebut, itu adalah airnya yang jernih dan sejuk.

Fasilitas umum penduduk kampung Gunung Kasur

Fasilitas umum penduduk kampung Gunung Kasur

Segera setelah semua amunisi—hasil donasi dari pelbagai pihak—dibongkar, acara pertama pun dimulai. Venuenya adalah Masjid Yadul ‘Ulya dan audiencenya anak-anak. Dengan antusias para bocah kampung, mulai dari balita sampai remaja, berbondong-bondong datang ke masjid. Acara bersama anak-anak kampung Gunung Kasur tersebut banyak diisi dengan quiz dan games. Ada bagi-bagi hadiahnya juga tentu saja. Namanya juga anak-anak. tak jarang mereka menampilkan tingkah yang polos dan menggemaskan. Apalagi pemandunya Kang Gigin yang kocak, makin klop sudah. Acara berlangsung meriah dan penuh canda tawa, sebelum akhirnya harus disudahi menjelang Ashar.

Tiga gadis cilik yang menerima hadiah dari TDA Berbagi

Tiga gadis cilik yang menerima hadiah dari TDA Berbagi

Selepas sholat Ashar berjamaah, acara dilanjutkan. Kali ini audiencenya adalah orang dewasa. Acara dimulai dengan pembacaan Alquran yang dibawakan oleh Kang Yasin, pendekar TDA Bandung. Ayat-ayat suci Alquran pun terlantun begitu indahnya dari mulut Kang Yasin. Semua orang mendengarkan dengan takzim. Sesekali nampak ibu-ibu yang duduk berdekatan saling berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bisik-bisikkan. Sepertinya sesuatu yang serius. Mungkin mereka sedang mengandaikan sebuah episode kebahagiaan jikalau bisa mempunyai mantu seperti Kang Yasin. Siapa tahu..

Acara pun berlanjut ke beberapa sambutan yang kemudian disambung dengan ceramah oleh Ustad H. Mansyur dari Lembang. Setelah ceramah selesai, giliran Bang Ican yang memberikan tausiah. Bang Ican adalah pendekar TDA Bekasi yang hari itu sengaja datang ke Bandung untuk mengantarkan Alquran sumbangan dari komunitas Sahabat Dakwah. Sebelum acara ditutup—karena sudah hampir mendekati waktu Maghrib—secara simbolis dilakukan penyerahan paket bantuan oleh Kang Ade (ketua padepokan TDA Bandung) ke Pak Nunung, dan juga penyerahan Alquran oleh Bang Ican ke Ustad H. Mansyur.

Penyerahan paket bantuan secara simbolis

Penyerahan paket bantuan secara simbolis

Penyerahan Alquran secara simbolis

Penyerahan Alquran secara simbolis

Adzan Maghrib yang ditunggu-tunggu akhirnya berkumandang. Kolak dan kue-kue sudah tertata rapi di atas meja. Saatnya sekarang berbuka. Karena tempatnya terbatas, maka dilakukan pembagian: bapak-bapak berbuka di dalam masjid, ibu-ibu berbuka di pelataran masjid yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Terlihat kegembiraan menyeruak di wajah setiap orang yang hadir di sana. Dengan lahap, mereka semua nampak menikmati sajian berupa gulai kambing, ayam goreng, pekedel jagung, tahu, dan juga tak ketinggalan lalapan beserta sambelnya. Alhamdulillahh..

Bapak-bapak berbuka bersama di dalam masjid

Bapak-bapak berbuka bersama di dalam masjid

 

Ibu-ibu yang nampak asik berbuka sambil ngobrol

Ibu-ibu yang nampak asik berbuka sambil ngobrol

Selesai berbuka, sholat Maghrib berjamaan pun dilaksanakan. Setelah itu, acara puncak yang dinanti-nantikan warga pun dimulai: pembagian bantuan! Warga pun bergerombol sambil berharap-harap cemas menunggu nama mereka dipanggil oleh Pak Nunung. Warga yang disebut namanya serta merta maju ke tengah untuk menyerahkan kupon yang sudah mereka dapatkan sebelumnya. Kupon itu ditukar dengan paket santunan yang diserahkan langsung saat itu juga. Nampak warga tidak bisa menyembunyikan ekspresi kegembiraannya ketika bantuan yang diberikan sudah sampai ke tangan mereka.

Pasutri yang nampak sumringah ketika menerima paket bantuan

Pasutri yang nampak sumringah ketika menerima paket bantuan

Bapak ini kuat juga yah ngangkat sendirian

Bapak ini kuat juga yah ngangkat sendirian

Ahh.., akhirnya acara bagi-bagi paket santunan ke semua KK di Gunung Kasur selesai sudah. Beberapa warga yang masih tinggal di area masjid menunaikan sholat Isya’ berjamaah, sementara anak-anak yang bermain dengan riang dalam kegelapan. Malam hari di kampung Gunung Kasur sangatlah gelap. Walaupun sudah ada listrik, namun penerangan masih sangat minim. Berjalan pun mesti hati-hati kalau tidak ingin terpeleset atau terantuk batu.

Langit semakin kelam dan udara semakin dingin. Para pendekar pun mulai berkemas-kemas. Hanya beberapa yang terlihat masih asik ngobrol dengan warga untuk membicarakan rencana perbaikan fasilitas umum. Setelah berpamitan dengan warga, mereka pun bergerak menuju kendaraan yang terparkir di sebuah lapangan rumput. Wajah mereka terlihat cerah. Secerah kilauan bintang yang menghiasi kolong langit kampung Gunung Kasur. Malam ini mereka akan pulang ke peraduan masing-masing sambil membawa cerita. Sebuah cerita mengenai indahnya berbagi dengan sesama di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah.

Jazaakumullah Khairan Katsiran Wa Jazaakumullah Ahsanal Jaza
Semoga Allah membalas kamu dengan kebaikan yang banyak dan semoga Allah membalas kamu dengan balasan yang terbaik

Salam,

MYA