Gema takbir bersautan di pagi hari, saat tim divisi sosial TDA Bandung mulai berangkat pada hari ahad 10 Dzulhijah 1432 H menuju Desa Cipanjalu Kampung Gunung Kasur Cilengkrang Kabupaten Bandung, dalam rangka melaksanakan TDA BerQurban di wilayah tersebut.
Untuk menempuh perkampungan ini tim memilih menggunakan motor karena medan yang ditempuh sedikit berkerikil dan menanjak menuju pegunungan. Waktu yang ditempuh sekitar 1 jam perjalanan.
Meskipun medannya tidak terlalu berat, nyatanya tim yang berangkat menggunakan 3 motor ini masih dibuat repot dengan ban salah satu angota tim yang bocor oleh kerikil-kerikil tajam di area perbukitan.
Rencananya penyembelihan hewan kurban dilakukan pukul 9 pagi menjadi tertunda, karena tim harus memperbaiki motor sampai turun gunung karena tukang tambal ban di sepanjang jalan di perbukitan dan pedesaan semuanya tutup.
Selesai melakukan perbaikan ban, tim kembali melaju menuju puncak gunung. Setibanya disana tim kembali mendapat cobaan dengan hadangan kabut yang tebal disertai guyuran hujan lebat.
Perjalanan pun dihentikan sampai hujan reda dan tim memutuskan untuk berteduh di saung yang ada dipegunungan tersebut. Mendekati tengah hari, tim terpaksa meneruskan perjalanan karena dikhawatirkan penduduk sudah menunggu terlalu lama.
Setibanya dilokasi tim disambut hangat oleh puluhan warga yang sudah bersiap meramaikan acara TDA BerQurban. Mereka ditemani oleh rekan-rekan mahasiswa ST Inten Bandung yang sehari sebelumnya sudah menginap di kampung ini.
Kurang lebih ada 10 ekor domba kurban yang disembelih di kampung ini dengan jumlah penduduk sekitar 100 orang atau sekitar 38 kepala keluarga. Distribusi kurban tidak hanya menyentuh perkampungan ini saja tapi juga sampai perkampungan yang berdekatan.
Dalam acara TDA BerQurban, tim tidak hanya mendistribusikan hewan kurban tapi juga menyumbangkan ratusan pakaian dan beberapa boneka cantik yang dibawa oleh tim menggunakan mobil.
Mereka tampak antusias dan merasa senang meskipun hujan terus mengguyur perkampungan ini sampai sore hari. Bagi mereka acara TDA BerQurban ini sangat dinantikan karena di perkampungan ini jarang sekali tersentuh distribusi Qurban, meskpiun jarak tempuh menuju kota Bandung hanya 1 jam.
Kondisi Desa Cipanjalu Perkampungan Gunung Kasur. Perkampungan Gunung Kasur merupakan kawasan pegunungan yang diapit oleh pegunungan Manglayang di kota Bandung dan pegunungan Lembang di sebelah timur Bandung. Kawasan ini termasuk ke dalam pegunungan Palintang. Ketinggiannya mencapai 3010 kaki atau 918 meter.

Kawasan ini dapat di tempuh dari dua arah yaitu dari arah Ujung berung melintasi kecamatan Cilengkrang dan dari arah Lembang kawasan perbukitan Cibodas,dan Bukit Tunggul dengan jarak tempuh sekitar 5 jam dengan berjalan kaki, dan sekitar dua jam menggunakan kendaraan bermotor.

Vegetasi yang terdapat di pegunungan ini merupakan Vegetasi tropis pada umumnya, mulai dari tumbihan semak, perdu hingga tumbuhan pohon yang mencapai ketinggian lebih dari 15 meter. Pengelolaannya ada di bawah kekuasaan Perhutani Propinsi Jawa Barat.
Kawasan ini juga di jadikan kawasan perkebunan kina dan haramai yang merupakan bahan dasar dari kain katun. Pohon pinua dan eukaliptus pun menjadi salah satu jenis pohon yang mendominasi kawasan ini. Kawasan ini pun menjadi salah satu titik kawasan yang di jadikan pemasok air tanah yang di kelola oleh PDAM Jawa Barat.
Jika melintasi trek dari Ujung berung hingga ke Lembang, maka kita akan melewati sekitar 3 desa yang terpencil, yaitu desa palintang,desa Cipanjalu gunung kasur, dan desa bukit tunggul. Diantara ke tiga desa tersebut yang sangat terpencil adalah desa Cipanjalu Gunung Kasur, tempat dimana diadakannya TDA BerQurban
Di desa ini kebanyakan mata pencaharian mereka adalah buruh di perkebunan kina yang statusnya hanya serabutan. Dan hanya ada 4 orang yang statusnya sudah tetap dengan gaji 800 ribu setiap bulannya.
Kondisi perkampungan ini sangat sederhana sekali. Rumah mereka panggung terbuat dari bilik-bilik. Mereka memanfaatkan kekayaan alam sekitar dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Meskipun listrik sudah masuk ke perkampungan ini dua tahun yang lalu, tetap saja kondisinya masih sepi dan hening. Karena sebagian muda-mudinya memilih mengembara ke kota untuk mengais rizki lebih.
Di perkampungan ini tidak terdapat sekolah, mereka yang bersekolah harus menempuh jarak sekitar 4-5 KM untuk sampai ke lokasi sekolah di desa tetangga. Tapi untuk sarana ibadah di kampung ini tersedia satu masjid kecil yang sangat sederhana.
Secara rutin anak-anak diperkampungan ini menimba ilmu agama di masjid tersebut dengan ustadz yang didatangkan dari desa tetangga.
Kesederhanaan inilah yang membuat perkampungan ini tetap asri. Keheningan, ketenangan dan kedamaian sangat terasa sekali ketika menginjakan kaki ke perkampungan yang diapit oleh perbukitan ini.

Semoga, tahun depan senyum mereka tetap terkembang