Rekans,
.

Dulu ketika saya belum bergabung di komunitas ini, saya memiliki beberapa teman yang jalan bareng di dunia usaha, ada yang bergerak di kontraktor, ada yang bergerak di konsultan, dan ada yang bergerak di software & hardware.
.
Dengan adanya teman-teman ini, semangat saya untuk usaha tetap menyala. Teman-teman ini menjadi teman sharing apabila saya menghadapi kendala, pun sebaliknya ketika teman menghadapi kendala, sharing bareng dengan saya.
.

Ada juga kakak kelas, yang adalah mentor saya, juga turut serta menyalakan semangat saya. beliau yang dulu mengajak saya berbisnis mlm, beliau yg mengajari cara saya berusaha. Disaat itu beliau sukses dengan perusahaan PT nya yang bergerak di distributor peralatan china serta juga memiliki hak cipta hardware yang dijual ke wartel dan kantor.
.

Seiring berjalannya waktu tahun pertama tahun kedua tahun ketiga, satu persatu teman-teman saya menghilang. Ada yang menutup usahanya karena tertipu, dan memilih untuk berkarir, ada juga yg men-suspend usahanya dan memilih sekolah dan berkarier diluar negeri. Bahkan mentor saya, melepas perusahaannya / menjual perusahaannya dengan harga nol rupiah, dan memilih untuk berkarir.
.

saya kehilangan teman-teman saya, bahan bakar saya. Namun tidak lama berselang saya mengetahui TDA dan tertarik bergabung dikomunitas ini.
.

Iya.., di komunitas ini, banyak sekali teman-teman baru yang punya nasib seperjuangan yang sama dengan saya. Tidak hanya teman, saya juga menemukan mentor-mentor baru dan panutan ‘role model’ yang akhirnya membuat semangat pun kembali menyala.
.

Seiring berjalannya waktu, saya melihat kejadian yang sama yang pernah saya lihat sebelum bergabung. Beberapa teman-teman menghilang dari usahanya, bahkan saya mendengar salah satu cerita ada teman yang bisnisnya sudah beromset 11digit / tahun, namun tidak lama setelah mencapai omset tersebut usahanya ditutup.

.
Ternyata tidak hanya di dalam komunitas ini, saya melihat diluaran, banyak pelaku-pelaku usaha baru atau bahasa kerennya enterpreneur baru, yang dengan cepat membesar, dalam dua tahun mampu meng-11digit-kan penjualannya. Namun tidak lama enterpreneur baru tersebut menghilang.
.
Fenomena ini terjadi karena turbullensi.. Semua berjalan ‘easy come, easy go’. ada yang dengan mudah datang menjadi enterpreneur baru, ada juga dari enterpreneur baru serta pelaku usaha lama yang dengan mudah menghilang.
.
Turbulensi terjadi, karena perubahan landscape yang terjadi. Peran terbesar perubahan terjadi karena kemajuan teknologi. Semakin mudah menjangkau konsumen, semakin mudah mempelajari kompetitor, semakin mudah juga kita belajar pengetahuan baru, dan semakin mudah dan murah juga kita pergi ke luar negeri. Peran lain yang cukup mempengaruhi turbulensi adalah kebijakan pemerintah, saat ini negara di luar Indonesia sedikit demi sedikit semakin mudah untuk menjalankan bisnis di Indonesia.
.
Turbulensi terjadi, mengakibatkan landscape berubah dengan cepat. …Yang sebelumnya pelaku usaha jualan dengan profit yang bagus, namun dengan semakin banyaknya pelaku baru yang ‘easy come’ di bidang yang sama akhirnya profit dikurangi, bahkan bisa sampai merugi. …Yang sebelumnya berjualan dengan menerima bola saja melalui advertising, namun dengan semakin pintarnya konsumen, mereka mengerti mana produk serta jasanya yang ‘nilai’nya sepadan, sehingga seberapa hebat pun pelaku usaha ber’advertising, tidak ada bola konsumen yang masuk, karena konsumen pintar.
.
Rekans, di era turbulensi ini, banyak yang ‘easy come, easy go’, dan ada juga yang masih bisa bertahan, bahkan berkembang secara konsisten tahun demi tahun.
.
Bagaimana caranya bisa bertahan dan berkembang? jadikan usaha kita mempunyai sifat fleksible. Ketika diluar sana ‘tercium’ landscape yang akan berubah, secepatnya sesuaikan usaha kita dengan landscape yang baru, ketika berubah ke yang baru lagi, segera rubah lagi usaha kita menyesuaikan landscape yang baru.
.
Bagaimana bisa fleksibel? menurut saya ada tiga, pertama tetaplah selalu paranoid terhadap potensi-potensi ‘ancaman’ dari luar,
.
Kemudian yang kedua, dengan semakin seringnya kita menerima informasi potensi ‘ancaman’, kita dituntut untuk action berubah, berubah itu tidak gampang, maka jadikan aktivitas “out of comfort zone” menjadi kegiatan yang biasa,
.
kemudian yang ketiga, bagaimana kegiatan kita lebih efektif, maka tetaplah terus belajar, banyak sekali referensi kita untuk belajar, saya sering sekali membaca artikel-artikel founder, presiden dan direktur-direkturnya TDA, baik di blog pribadinya maupun di website resmi TDA. Ada artikelnya yang membahas tentang mindset, ada yang tentang leadership, ada juga yang artikelnya pendobrak yang bikin kita panas, ada juga artikel yang memberikan langkah langsung praktis panduan kita… Selain itu, bacalah buku, karena buku membuka wawasan kita.

—-