Allah SWT berfirman :
“ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya) ( nyatalah kesabaran keduanya ) ( QS As Shaffaat : 103 )

Ibrahim a.s berjalan dan membaringkan anak kesayangannya untuk bersiap siap. Nabi Ismail berkata “ Ya Abati… laa tadzbahnii wa anta tandzuru ‘alaa wajhii… ’asaa an tarhamanii… Wahai Ayahku, janganlah engkau menyembelihku sedangkan engkau melihatku. Maka engkau tidak akan tega. Akan tetapi ikatlah kedua tanganku ke leherku, dan hadapkan wajahku ke bumi.”

Maka sang ayah pun mengikatnya dan menelungkupkan wajah anaknya agar ia dapat menyembelihnya dari arah tengkuknya. Agar dia tidak melihat wajah anaknya ketika di sembelih, hingga lebih ringan baginya. Sedangkan Nabi Isma’il a.s pada saat itu memakai baju putih. Lalu dia mengatakan “Wahai Ayahku, sesungguhnya aku tidak mempunyai pakaian untuk mengkafani diriku selain baju ini, oleh karena itu lepaskanlah baju ini, sehingga dapat di jadikan untuk mengafaniku.”

Ketika mereka berdua sudah menyerahkan diri. Ketika mereka berdua sudah ridho atas perintah Allah SWT dengan penyembelihan ini. Maka ketika Ibrohim hendak melepaskan baju anaknya, ketika itulah terdengar suara dari belakang, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.“

Ibrahim a.s langsung menoleh ke belakang , ternyata ada seekor domba jantan berwarna putih, bertanduk dan bermata bagus. Kemudian Nabi Ibrahim a.s pun menyembelih domba itu. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Maka dirikanlan shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah (karena Tuhanmu pula).” (QS Al Kautsar [108]: 2).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Tidak ada satu amal pun yang dilakukan seorang anak manusia pada Yaumun-Nahr yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan qurban yang disembelih). Maka berbahagialah kamu karenanya.”(HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad yang shahih).

Cuplikan cerita dalam Al Quran dan Hadits itu yang membuat saya mencoba istiqomah mulai rutin berqurban semenjak mendapatkan gaji pertama. Ketika dalam kondisi mengawali bisnis dan saldo tidak meyakinkan, saya memilih berqurban melalui lembaga amal tertentu yang saya percaya dan lebih murah.

Pengalaman baru dimulai sejak tahun lalu, ketika itu saya berqurban di masjid rumah dan hanya berniat meramaikan acara TDA Bandung tebar qurban yang dilakukan pada hari kedua. Kebetulan tempat pelaksanaannya di ponpes Al Hilal binaan begawan TDA Bandung, ust. Hendra “King” Jabal.

Saat itu begitu terasa kebahagiaan berbagi, melihat antusiasme penerima daging kurban membuat saya merasa sebetulnya kita yang “butuh”, bukan mereka yang benar2 butuh daging qurban kita.

Tahun ini insya Allah TDA Bandung memilih Kampung Campaka-Cipelah, Kab. Bandung sebagai tempat tebar qurban. Satu kampung di tengah perkebunan teh yang penduduknya berjumlah 430 jiwa dari 220 KK. Mata pencaharian penduduknya adalah pemetik teh.

Secara kasat mata kampung yang terlihat rapi dan bersih ini sangat berkecukupan. Namun ternyata penghasilan mereka sangatlah minim untuk sekedar makan “daging”. Dulu masih ada yang berqurban di kampung ini satu-dua ekor domba karena penduduk masih boleh memelihara hewan ternak diantaranya domba. Namun beberapa tahun ini mereka absen melakukan qurban sejak perusahaan melarang segala hewan ternak dipelihara di kampung tersebut.

Karena itu saya berazzam, insya Allah tahun ini saya ikut berqurban dengan TDA Bandung, kamu bagaimana…?