“Seandainya saya mengikuti workshop ini sepuluh tahun yang lalu, mungkin saat ini saya sudah mapan”. Itulah salah satu “pengakuan” dari seorang peserta workshop “Waspada Bisnis Abal-Abal”, yang diselenggarakan Kamis, 6 Februari 2014.

Menghadirkan Bang Jay Teroris, Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA Pusat, sebagai pembicara, acara ini dihadiri sekitar 30an peserta yang nampak serius dan antusias menyimak pemaparan Bang Jay. Maklum saja, akhir-akhir ini semakin banyak tawaran bisnis/investasi di masyarakat yang (sekilas) nampak menggiurkan. Padahal kalau ditelaah lebih lanjut dengan hati dan pikiran yang jernih, tawaran tersebut sungguh tidak masuk akal.

Menurut Bang Jay, ada dua faktor utama yang membuat seseorang bisa terjebak dalam sebuah skema abal-abal. Yang pertama adalah pengetahuan. Dalam beberapa kasus bisnis/investasi abal-abal yang sempat meledak dan menghebohkan masyarakat, banyak ditemukan bahwa korbannya kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke bawah. Mereka ini biasanya mempunyai tingkat pendidikan dan tingkat penghasilan rendah, sehingga ketika ada iming-iming yang menggiurkan mereka dengan mudahnya masuk ke dalam perangkap skema bisnis/investasi abal-abal.

_DSC5832

Namun yang mengherankan, tidak sedikit pula korban yang berasal dari kalangan tedidik bahkan ada yang bekerja sebagai dosen dengan gelar professor-doktor. Bagaimana mungkin mereka juga bisa terjebak? Bukankah dengan analisis sederhana saja bisa langsung kelihatan bahwa skema tersebut sungguh di luar logika? Menurut Bang Jay, ini disebabkan oleh faktor kedua, yaitu: keserakahan.

Selepas workshop, acara dilanjutkan dengan Entrpreneur Radio Talk dengan mengangkat tema yang sama. ERT ini pada dasarnya merupakan acara rutin TDA Bandung yang diselenggarakan setiap Kamis sore bekerja sama dengan Radio Sindo. Di talkshow ini, Bang Jay ditemani oleh Coach Fauzi Rachmanto, Presiden TDA Pusat, sebagai narasumber.

Acara talkshow diawali dengan penjelasan dari Coach Fauzi mengenai ciri-ciri bisnis/investasi abal-abal, antara lain:

  1.  Menjanjikan keuntungan (return) yang besar dalam waktu yang singkat
  2. Kita—nasabah/peserta/investor—tidak mempunyai kendali terhadap uang/asset yang disetorkan
  3. Skema bisnis/investasi tersebut hanya bisa berjalan (sustain) selama ada member/downline baru

_DSC5868

Lebih lanjut, Bang Jay menjelaskan bahwa bisnis/investasi abal-abal ini bisa marak berkembang di masyarkat utamanya dipengaruhi oleh budaya instan yang kian hari kian menjangkiti masyarakat Indonesia. Sekarang ini, apa-apa inginnya serba (kelewat) cepat. Baru buka toko, inginnya langsung laris. Baru buka warung, inginnya langsung punya banyak franschisee. Kultur “pengen serba instan” inilah yang pada akhirnya membuat bisnis/investasi abal-abal bisa tumbuh subur dan selalu saja berulang kendati sudah banyak contoh di masa lalu yang harusnya bisa dijadikan pelajaran.

Yang menyedihkan, banyak pengusaha yang sedang merintis atau sedang berjuang menstabilkan bisnisnya yang tergoda dengan tawaran-tawaran semacam itu tapi pada akhirnya merasa tertipu. Dampaknya, bukan hanya rugi uang, waktu, dan kehidupan sosial, tapi bahkan keluarga pun bisa hancur berantakan.

Untuk itu menjadi sangat menarik apa yang dipesankan Bang Jay di akhir acara: “Lupakan cara-cara instan seperti itu. Yuk kita kembali ke lapak masing-masing. Kita fokus di sana. Supaya kita bisa merayakan ulang tahun usaha kita yang kelima.”

Memang, butuh usaha dan fokus yang besar untuk bisa membuat bisnis kita tetap bertahan sampai tahun kelima. Thanks Bang Jay, sudah mengingatkan kita 🙂

A Man of Thousands Words

A Man of Thousands Words

 

MYA
Smuufy.com | Web Design & Development Studio